Belajar dari contoh nyata
Apapun pelajaran yang kita terima, contoh, pembuktian
yang kasat mata dan kasat rasa, manakala bertentangan dengan apa yang anda
yakini dari pelajaran itu. Maka anda akan berperilaku seperti tidak pernah
menerima pendidikan apapun.
Semua kebaikan yang anda yakini benar, pada hakekatnya kerana terdorong oleh seberapa
banyak keburukan yang telah diketahui. Keburukan tidaklah mesti dialami sendiri.
Belajar keburukan dari pengalaman orang lain jauh lebih menguntungkan
dari pada belajar keburukan yang dialami sendiri. Dalam artian kualitas kebaikan
yang diperoleh tetap sama nilainya. Terlepas dari sisi
mana anda belajarnya
Dalam budaya timur, orang enggan
untuk menunjukan kemampuan diri didepan orang banyak.Takut dibilang sombong.
Takut membuat orang lain merasa tidak senang. Hal ini memang
sedikit ada benarnya, sejauh yang dipertontonkan adalah hal-hal yang bersifat
olah keperkasaan, kekayaan material atau yang sejenis itu.
Pola pikir menahan pengetahuan untuk bisa dipelajari
oleh orang lain, karena alasan takut tersaingi yang berujung pada bentuk kekhawatiran
terbaliknya periuk nasi. Mengindikasikan begitu lemahnya
keyakinan diri untuk meraih qualitas hidup lebih baik.
Contoh nyata yang banyak dialami,
adalah menahan pengetahuan dengan menambah lapis lapis jenjang, lapis lapis
tingkatan sehingga ilmu yang lurus jadi berliku-liku semakin
jauh.
Kita meyakini, bahwa alam selalu menuntut keseimbangan,
mutual take and give sebagai alat tukar antara alam dengan penghuninya.
Kita tidak akan pernah mendapat apa-apa, jika kita tidak pernah memberi. Lebih
dari itu, jika kita melakukan kesalahan pada alam, maka alam menghukum kita
dengan bencana.
Kita tanam sebutir biji jagung ke perut alam, dan alam menyerahkan ratusan butir biji
jagung. Kita ambil puluhan kubik kayu di lereng bukit, alam mengirim ribuan ton longsoran tanah.
Apak kata orang yang tak pernah mau belajar dari contoh nyata ?
Mereka hanya mengatakan : ”Ah itukan musibah”. Cespleng and stupid.
Wassalam
Bambang Sarkoro