Harapan, cita-cita adalah perintah
Harta terakhir yang kita miliki adalah harapan. Sepapa apapun, selama harapan masih
tersimpan di lubuk hati. Cuat sinar kehidupan masih akan menyinari diri
kita. Mewujudkan harapan menjadi kenyataan, sama halnya dengan mejalankan suatu proyek.
Dimana diri kita bertindak sebagai pimpro (pimpinan proyek).
Layaknya sebuah proyek, maka diperlukan organsasi yang efektip, rencana strategis,
sasaran dan target waktu penyelesaian
Seluruh batang tubuh kita merupakan satu organisasi yang sophisticate. Suara hati
bertindak sebagai pemimpin. Masalahnya apakah suara hati mampu menjalankan gerak
organisasi dengan kualitas yang baik.Satu hal yang sangat spesifik, organisasi didalam
tubuh kita adalah organisasi yang sangat loyal, patuh kepada sang pemimpin. Tak satupun
keputusan pemimpin yang ditolak. Mata tidak akan memejam mana kala suara hati memerintah
untuk terus menatap.
Jelasnya hanya kualitas keputusan saja yang membentuk organisasi batang tubuh kita
menjadi terlhat lebih baik dibanding dengan yang lainya.
Sering kali kondisi atau lingkungan dijadikan alasan untuk memaafkan ketidak mampuan diri
kita untuk mencapai tujuan atau target, sehingga harapan gagal diwujudkan dengan
tepat waktu. Atau sama sekali gagal berantakan.
Mewujudkan harapan atau menggapai cita-cita layaknya di ibaratkan kita sedang berenang
menyeberang dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan air disekitar kita adalah
lingkungan atau kondisi yang dihadapi. Untuk mencapai seberang, mau tidak mau kita
harus melewati air dan meinggalkan air setelah mendarat diseberang.
>Kepala kita harus tetap di atas air untuk dapat terus bernapas. Dalam hal ini posisi diri
kita harus dapat menguasai kondisi atau lingkungan untuk mewujudkan harapan.
Kalau kepala kita terbenam didalam air, Artinya kita tenggelam dalam lingkungan atau kondisi.
Yang pada akhirnya kehabisan energi hanyut terseret.
Seluruh organ pada batang tubuh kita adalah subordinat yang sangat loyal dan
patuh. Tidak ada organisasi lain yang memiliki kualitas seperti organ tubuh
kita. Dan ini adalah modal terkuat yang dimiliki. Saya pribadi tidak percaya
kalau lingkungan, kondisi dapat mempengaruhi atau merusak harapan dan cita-cita.
Saya lebih percaya bahwa tidak sedikit orang yang kalah berperang melawan lingkungan
dan kondisi, sehingga ianya tidak berdaya, kalah dan tunduk pada kemauan lingkungan,
menyerah kepada kondisi.
Contoh spesifik.
Macetnya jalan di Jakarta, merupakan lingkungan atau kondisi yang terjadi sehari-hari.
Meski jalan macet, kita harus mampu melakukan pengukuran waktu untuk mencapai tujuan.
Dan kemudian me-manage waktu dengan konsisten, untuk sampai ketujuan dengat tepat waktu.
sehingga kehadiran pribadi dan atau kehadiran kita, tidak memberi beban penantian bagi
orang lain yang tentu saja membuat value pribadi kita menjadi tinggi.
Inilah yang kita sebut dengan benih kebahagiaan. Karena kemampuan diri mengubah harapan
menjadi kenyataan.
Artinya harapan, cita-cita memerlukan kekayaan inteligent, kekayaan konsistensi,
kekayaan niat, untuk biaya mangatasi agar batang tubuh kita tidak diracuni oleh
lingkungan dan kondisi.
Mutiara akan tetap mutiara, meski ada ditengah lumpur. Bunga Teratai tetap akan terlihat
indah dan segar meski mengambang diatas danau yang keruh.