Statistik Pengunjung :

Ka'bah Universal Time ( 1 )


Sebuah buku menarik karya Bambang E. Budhiyono berjudul KUT (Ka'bah Universal Time), atau diterjemahkan dengan judul yang lebih "gagah" REINVENTING THE MISSING ISLAMIC TIME SYSTEM.

Dalam buku ini menjelaskan Time System yang berlaku sekarang menggunakan Kalender Gregorian yang populer disebut kalender Masehi dengan pola peredaran bumi mengelilingi matahari.

Sebenarnya Islam telah memiliki time system sendiri yang merupakan gabungan pola Qamariyah dan syamsiah yang lebih dikenal dengan sistim kalender Hijriah.

"Kami (Orang Jawa) sebenarnya sudah memiliki sistem kalender Jawa yang memiliki pola yang sama dengan sistim kalender Islam. Dan Sultan Agung Hanyakrakesuma menggabungkan sistem kalender Islam dengan sistim kalender Jawa"

Sungguh amat disayangkan bahwa 'kekayaan' ini banyak dilupakan orang (Jawa - Islam). Sehingga tidak banyak lagi 'warga negara' mengetahui tentang sistem waktu Jawa-Islam.

Dalam kalender Gregorian (Masehi), membagi waktu dunia menjadi dua bagian dengan menetapkan garis tanggal international 0° pada Greenwich dan 180° pada selat Bosporus (antara Rusia Canada). Penggantian Tanggal harian ditetapkan pada jam 00:00 pada Meridian 180°.

Penetapan garis tanggal International diprakarsai oleh Stanford Fleming (Canada) dan Charles F Down (Amerika) pada tahun 1883 dan disahkan sebagai sistim tata waktu international dalam suatu konvensi pada tahun 1885. Maka sejak saat itu dunia 'terbelah dua' dengan latitude 0° ~ +180° sebagai Bujur Timur dan 0° ~ -180° sebagai Bujur Barat. Maka sejak itu kita mengenal negara-negara Barat dan Negara-negara Timur.

Dalam proyeksi perjalanan matahari dari Timur ke Barat, maka negara-negara yang berada pada merian 0° ~ +180° akan mendahului 1 hari dibandingkan dengan negara-negara Barat yang ada pada meridian 0° ~ -180°. Lalu apa akibatnya ?

Ka'bah yang terletak pada meridian +40° BT dan Indonesia yang terbentang dari meridian +94° ~ +141° BT (bujur Timur) memiliki selisih waktu 4 ~ 6 Jam (15° meridan per jam). Dimana Indonesia (jakarta) mendahului 4 jam lebih awal dibandingkankan waktu di Ka'bah (Mekkah). Sehingga (misalnya) kita melakukan Shalat Ied pada pagi hari jam 7:00 maka Umat muslim di Mekkah masih melakukan Takbir atau masih ada yang terlelap tidur (jam 3:00 dinihari.)

Jika mengacu pada QS Al Imran ayat 96 :

"Inna Awwala baitin wudi'a linnasi lallazina bibakkata mubarakhan wahudan lil 'alamnin".

(sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (tempat ibadat) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua umat manusia.)

Dan bilamana surat diatas kita gandeng dengan Surat Al Hujurat ayat 1 (QS 49:1) :

"Ya ayyuhal ladzina aamanu tuqqadimu baina yadayillahi wa rasuullihi wattaqullaha innallaha sami'un 'aliim."

(Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan mengetahui).

Maka secara jelas bahwa umat muslim yang berada di sebelah timur Mekkah (meridian > 40° BT ~ 180° BT) MENDAHULUI melakukan ibadah Maddah dan bertentangan dengan sunnah Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Dunya meriwayatkan pada kitab Al Adhahi, dimana Rasullulah membatalkan ibadah penyembelihan hewan Qurban karena mereka melakukan penyembelihan hewan Qurban sebelum Rasulullah melakukannya. Dan memerintahkan mereka mengulangi penyembelihan Hewan Qurban setelah beliau melakukan penyembelihan. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabhrani dalam kitab Al Ausath.

Jelasnya kita bisa terkecoh, manakala Kalender Gregorian (Masehi) sebagai petunjuk tanda waktu ibadah Maddah karena kita akan selalu mendahului menjalankan shalat sebelum Shalat yang sama dilakukan di Baitullah Mekah pada hari yang sama

Bersambung pada bagian ke 2


Wassalam

Bambang Sarkoro