Mengawal waktu Dalam Al Ashr, jelas disebutkan bahwa
sesungguhnya demi masa, manusia merugi, kecuali bagi
mereka yang beriman dan sabar.
Tidak sedikit aktivitas terlewat
begitu saja, alias dimakan waktu, sehingga membuat umat manusia menjadi rugi dan
tidak produktip. Kesan tidak menghargai waktu begitu
dominan khususnya di sekeliling kita terjabar dari begitu populernya terminologi
jam karet. 1001 satu alasan meluncur keluar, guna “membersihkan”
diri dan dengan tidak sungkan lagi menimpahkan kepada obyek lain. Saya sendiri tidak setuju dengan
ungkapan populer “time is money” yang terkesan materialistis dan sempit
obyeknya.Saya sendiri lebih cenderung
percaya pada ungkapan “time is valuable”, meski disadari bahwa ungkapan tersebut
tidaklah populer. Karena memang ungkapan memiliki dimensi
cakupan yang sangat luas, tidak terbatas pada hal-hal bersifat
material.
Terlepas dari setuju atau tidak setuju pada dua ungkapan diatas.
Pesan yang ingin disampaikan cobalah kita untuk dapat mengawal
(control) waktu yang berjalan terus dalam aktivitas diri kita secara
moderate. Kata kuncinya adalah konsisten.
Contoh yang paling sering kita rasakan adalah penggunaan Insya Allah dalam banyak
kesepakatan atau janji diantara dua orang atau lebih. pernyataan Insya Allah ditafsirkan
dimengerti sebagai mudah-mudahan, semoga atau kata-kata yang setara artinya
dengan ketidak pastian (inconsistent). Yang menganulir ketidak mampuan diri
kita untuk dapat menepati janji atau kesepakatan. Selalu ada alasan bahwa sudah berusaha
tapi Tuhan berhendak lain.
Jika kita urai secara chronologis, ketidak mampuan untuk memenuhi janji / kesepatan dengan
tepat waktu, dominanya karena diri kita tidak mampu mengatur waktu (disable in managing time)
dengan baik. Maka kata-kata Insya Allah didepan kesepakatan
/ janji menjadi alasan mustajab sebagai pembersih untuk menyatakan bahwa yang salah
bukan diri kita, Yang salah adalah Allah
yang tidak menghendaki. janji/kesepakatan itu terjadi.
Dari sisi Hakekat, Ketetapan Allah adalah mutlak pasti. Allah tidak pernah menganulir janji.
Allah konsisten dengan semua firmanya. Dan ini kita yakini mutlak benar. Dalam artian jika kita
ucapkan Insya Allah berarti kita harus konsisten untuk menepati suatu
janji/kesepakatan tepat waktu. Dan Insya Allah, demi masa anda menjadi orang yang tidak merugi.
Oleh karena itu, tafsirkanlah Insya Allah sebagai Allah bersamaku didalam diriku, Dan
tidak lagi diterjemahkan mudah-mudahan yang identik dengan ketidak pastian