Statistik Pengunjung :

Kebahagiaan dan Welas Asih


Kebahagiaan adalah mata pencarian hampir setiap orangApakah itu menikah, bekerja, berdo’a atau kegiatanm hidup lainya. Semuanya bermuara pada samudra yang bernama Kebahagiaan. Sebegitu dahsyatnya daya tarik kebahagiaan, sehingga banyak orang yang mengejarkan meski dengan ongkos yang mahal.

Kendati sudah menjadi tujuan manusia sejak zaman dulu kala, dan manusia telah menghabiskan dana, tenaga waktu yang sangat besar, masih saja tidak pernah puas. Disisi lain dan di banyak pojokan tidak sedikit kehidupan yang masih bergelimang dengan air mata. Tanpa perduli itu adalah pojokan kumuh tempat kemiskinan maupun pojokan mewah. Kenyataan terakhir diatas mengajarkan kita bahwa tawa dan air mata tidak mengenal sekat-sekat harta.

Lantas apakah ciri khas hadirnya air mata ?.

Kata bijak berbunyi : “Orang yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan seseorang dengan perangkat sikap tertentu”.

Bilamana kita cermati kata bijak seperti itu, point pentingnya bukanlah keadaan (baca : harta, tahta dan keadaan lainnya) melainkan perangkat sikap kitalah yang lebih menentukan seberapa lama umur kebahagiaan bisa kita miliki. Dengan perangkat sikap yang tepat, mau miskin atau kaya, jabatan tinggi atau rendah, di kota atau di desa, semuanya dibukakan pintu kebahagiaan yang sama lebarnya oleh Allah.

Persoalannya, jarang orang yang mencari kebahagiaan melalui jalur-jalur sikap. Umumnya, orang mengejarnya di sektor keadaan. Maka, jadilah kegiatan terakhir seperti kegiatan mengejar kaki langit yang tidak mengenal akhir. Atau seperti mengejar bayangan sendiri.

Oleh karena tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan hidup untuk senantiasa bergaul di atas maupun di bawah, tidak jarang saya bertemu orang yang dibuat sengsara oleh nafsu berlebihan untuk mencapai keadaan tertentu. Didorong oleh mesin kejam yang bernama keinginan, jadilah tubuh dan hidupnya seperti mobil yang bergerak cepat tapi tanpa sopir. Kerap sampai dalam keadaan yang diinginkan memang. Tetapi, ongkos yang dibayarnya amat dan teramat mahal. Tidak jarang terjadi, ongkosnya adalah kehidupan mereka sendiri.

Agak berbeda dengan pencari-pencari harta dan tahta, ada sejumlah orang yang saya kenal yang memusatkan sebagian besar energi dalam perbaikan dan pengembangan sikap. Fokusnya memang bukan keadaan yang ada di luar sana, melainkan sikap yang muncul dari dalam sini. Tidak mudah tentunya, terutama pada awalnya. Dan saya sendiri masih dalam tahap belajar. Namun, begitu wilayah sikap ini sudah terkuasai, kebahagiaan bukanlah barang yang teramat langka dan mahal.

Coba kita simak Bunda Theresa, hidupnya sebagian besar dikelilingi orang-orang berpenyakit di lingkunang miskin. Akan tetapi, toh beliau bisa memiliki umur tua dan panjang. Atau teladani jalan kehidupan Sang Buddha yang meninggalkan harta dan tahta untuk mencapai pencerahan. Sebenarnya masih ada contoh lain yang terlalu panjang untuk diceritakan di sini.

Demikian juga dengan Bunda Theresa, hidupnya sebagian besar dikelilingi orang-orang berpenyakit di lingkunang miskin. Akan tetapi, toh beliau bisa memiliki umur tua dan panjang. Buddha bahkan meninggalkan harta dan tahta untuk mencapai pencerahan. Sebenarnya masih ada contoh lain yang terlalu panjang untuk diceritakan di sini.

Yang jelas, sikap merupakan kunci yang amat menentukan dalam perjalanan menuju kebahagiaan. Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah pepatah cina yang menarik perhatian. Pepatah tersebut berbunyi amat sederhana. Jika kau menginginkan kebahagiaan untuk sejam tidurlah selama itu. Untuk sehari pergilah memancing. Untuk sebulan menikahlah. Untuk setahun warisi harta. Untuk seumur hidup tolonglah orang lain.

Pepatah sederhana terakhir. Semakin ia didalami, semakin dibawa ke dalam rangkaian pemahaman tentang kebahagiaan yang demikian lengkap dan mengagumkan. Sikap, itulah hulu dari sungai kebahagiaan. Lebih-lebih kalau sikap terakhir dijabarkan ke dalam sikap rajin membantu dan menolong orang lain. Sungai kebahagiaan akan menjadi sungai yang tidak pernah mengenal kering.

Entah bagaimana cara kita menjabarkan kalimat ‘tolonglah orang lain’, Kenyataan praktis dan pahit sering terdengar, Begitu gegernya dan menggeledek suara ajakan terbang ke Afganistan untuk “jibaku” disana, dan sebaliknya begitu kering tenggorokan tak mampu bersuara manakala mendengar dan melihat puluhan ribu saudara-saudara kita terhina terusir dari negeri Jiran.

Begitulah kira-kira jika kita melakukan sesuatu amal bhakti hanya didasari oleh keadaan atas kepentingan yang abu-abu. Natijahnya kita kehilangan harta yang paling berharga yaitu irama sikap welas asih, sehinga warna segumpal daging didalam rongga tubuh coreng moreng tak terbaca. Yang pada akhirnya gagal menyumbangkan setitik kebahagian kepada saudara-saudara kita yang sedang terhina ditapal batas negara.

Atau mungkin zaman telah mengubah warna welas asih dari putih bersih menjadi corak welas asih berukir gambar pedang ?


Wassalam

Bambang Sarkoro