K E S E T I A A N

Bagi Sejawat Margaluyu Pusat, pasti mengenal kata PAYUNG. Akan tetapi payung yang dibicarakan disini bukanlah bentuk fisik jurus Payung Rasul yang kita kenal. Yang akan dibicarakan adalah filosofi Payung Rasul yang mendasari dan laku yang disiapkan jika kelak kita sampai ke tahap tsb.

Kita mengetahui bahwa konsep keilmuan Margaluyu Pusat adalah membangun manusia mencapai kecerdasan spiritual (Building the Intelligent Spiritual Quotien).
Untuk mencapai kearah tersebut, diperlukan Kesetiaan dalam memperlakukan diri sendiri maupun orang lain (Guru, Ratu, Ibu, Rama, sareng sanesna).
Serta Cinta kepada diri sendiri dan mengimplementasikanya dalam ke hidupan sehari-hari

Definisi kesetiaan dalam keilmuan Margaluyu Pusat adalah memiliki kualitas:

  1. Kualitas Iman dan Taqwa
  2. Kualitas Cinta
  3. Kualitas Kepercayaan
  4. Kualitas Ikhlas
  5. Kualitas Kejujuran.
Kelima bentuk kualitas inilah yang disebut PAYUNG sejatinya manusia. Payung yang melindungi perjalanan hidup, dengan kualitas hdup yang baik. Menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan kodrat. Tidak melakukan pelanggaran sunnatulah

Kepada sejawat Margaluyu Pusat, mencapai tahap Payung adalah merupakan idaman. Sebaliknya yang begitu ingin mendapatkan jurus Payung, tentu akan berhadapan dengan syarat alami yang harus dipenuhi. Bukan Pelatih yang menentukan syarat. Tetapi lebih merupakan seleksi alam.
Alam sebagai / menjadi saksi dari seberapa jauh diri kita memiliki kualitas yang disyaratkan. Setiap soalan yang dihadapi dan bagaimana cara dan sikap kita dalam mengahdapi soalan-soalan tersebut, maka alam akan langsung memberikan reaksi.

Kalau kita belajar jurus Payung Rasul, artinya kita menempa diri sebagai sosok yang memiliki Kesetiaan. Dan Kesetiaan yang terdiri dari lima kualitas yang akan diharkatkan kedalam diri kita.
Pertanyaanya adalah :”Mampukan diri ini dengan kecerdasan yang tinggi membuat diri kita harmonis menyatu dengan kelima kualitas yang harus mendarah daging kedalam sanubari ?”

Begitu kita mulai berniat menghayati jurus Payung Rasul, Maka Alam sudah mulai menghitung kadar kelima kualitas yang dimiliki. Dan Alam langsung menyodorkan “soal ujian” yang harus kita sikapi dengan tanggap.
Lulus dan tidaknya tidak ditentukan oleh sang pelatih. Tetapi alam yang akan melakukan seleksi.


Bagaimana supaya bisa lulus dari seleksi alam. ?

Yang pertama,
kita sadari alam yang kita pijak ini adalah milik Allah yang memiliki hukum keseimbangan yang bersifat Qudratullah dan Sunnatullah.
Jika kita jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain, Maka alam akan merespon dengan kadar yang sama.
Jujur yang harus kita lakukan adalah kejujuran materi dan non materi. Yakni mampu melepaskan diri dari keterikatan transaksi untung dan rugi. Mampu mengendalikan segala bentuk keinginan yang diwujudkan memiliki keterkaitan dengan nafsu badaniah.

Yang kedua,
menjunjung tinggi keikhlasan.
Menerima dan tanggap atas petunjuk yang diterima. Baik petunjuk dari pelatih maupun maupun signal2 dari alam. Harus berani berkata “Say No”, jika ada hal hal yang mengakibatkan pelanggaran terhadap kesetiaan

Yang keTiga,
Meningkatkan kualitas kepercayaan.
Dalam arti mendjadikan diri kita menjadi sosok yang bisa dipercaya perilaku budi pekertinya. Tidak ada lagi sepatah kata bohong yang keluar dari diri kita. Menutup semua pintu kebohongan. Dengan kata lain. Kalau kita bicara bohong, Berarti membohongi diri sendiri, membohongi orang lain membohongi alam, dan membohongi Allah SWT. Dan alam akan langsung “menghajar”

Yang Keempat,
Menjaga dan meningkatkan kualitas cinta.
Sektor ini adalah sektor yang paling rawan. Karena berkaitan dengan nafsu badaniah.
Kegagalan dalam mengawali dalam menghayati jurus Payung Rasul, karena gagal mensikapi ujian yang diberikan oleh alam. “jebakan halus” dari alam dan gagal disikapi dengan benar dan langsung tergelincir.
Kita ambil contoh yang umum terjadi. Begitu akan memulai menghayati jurus Payung Rasul, Alam memberikan cobaan, Dan kita harus tanggap dalam mensikapi segala kejadian yang dihadapi. Misalnya kepincut dengan dengan perempuan yang bukan istrinya. Jika gagal mengelakanya, Dalam artian alam akan memvonis bahwa diri kita adalah sosok yang tidak memiliki kesetiaan lahir dan bathin.
Atau memberikan informasi yang tidak sesuai fakta (berbohong), untuk menjawab suatu pertanyaan dari teman, Guru, orang tua atau istri. Payung langsung akan membelenggu dan me-reset semua semua keilmuan yang telah dicapai menjadi mandul. Dan Kalau dalam bahasa management Right is hold (hak nya ditahan / suspended).

Yang kelima,
kualitas iman dan taqwa.
Allah SWT tidak menilai seseorang dari seberapa besar seseorang menunjukan kesalehan. Banyak orang yang terlihat saleh. tetapi tidak memiliki kualitas. Sehingga perjalanan hidupnya jauh dari kebahagiaan lahir dan bathin. Beribadah secara seimbang dan tidak mempertontonkan kesalehan adalah awal dari meniti peningkatan kualitas iman dan taqwa

Saran yang bisa disampaikan.
Jaga kesetiaan. Karena kesetiaan adalah payung bagi perjalanan hidup.
Dalam artian, ciptakan sejarah hidup baik. Dengan berlaku jujur, ikhlas, untuk menjadi sosok yang bisa dipercaya oleh orang lain.
Jangan kotori hidup kita, dengan cara mengendalikan nafsu badaniah. Dalam arti tidak kepincut dengan perempuan lain kalau diri kita sudah dikarunia istri oleh Allah SWT.
Jadilah pemberani untuk menebas yang salah. Dengan sesanti “Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput”

Wasalam
Bambang Sarkoro 19 Juni 2009

H o m e    Back