Ka'bah Universal Time (2)
Reinventing the missing Islamic time sistem
Seperti yang dijelaskan oleh penulis buku ini
(Bambang E. Budhiyono). Bahwa KUT tidak membagi tanggal
international menjadi menjadi dua bagian (timur dan Barat). Tetapi dengan
menggeser Garis waktu penggantian tanggal 180* meridian
ke 40* BT. dan ditetapkan sebagai 0* meridian Ka'bah
UT. Dan penggantian tanggal tidak lagi pada jam 00:00
tetapi pada jam 18:00, sebagimana layaknya orang
Jawa yang menyatakan bahwa (misal) hari Kamis
Sore jam 18:00 adalah malam Jum'at / awal
Jum'at). Atau biasa kita menyebut sabtu petang
sebagai Malam
Minggu. Yang lebih menitik beratkan pada faham tata waktu
Jawa.
Struktur meridian tidak lagi dibelah menjadi
dua arah tetapi menjadi satu arah mengikuti garis edar
matahari dari kiri ke kanan, dimana posisi Greenwich (GMT)
terletak pada -40* KUT dan posisi Indonesia / Jakarta
menjadi -294* KUT di belakang merdian Ka'bah (Mekkah) atau 19 Jam
dibelakang Ka'bah (selisih satu hari dibelakang
garis waktu Ka'bah).
pada saat di Mekkah melaksanakan Shalat Maghrib
18:30 GMT tanggal 1 Agustus, maka di Jakarta masih jam
22:30 malam GMT tanggal 31 Juli menjelang Subuh. Dengan demikian
tidak lagi mendahului melakukan shalat maghrib untuk
tanggal 1 Agustus.
Disadari bahwa memang sulit dipahami secara
selintas tanpa membiasakan diri dengan dengan konversi
waktu GMT ke KUT yang banyak dipakai oleh para orang tua
Jawa dalam menunaikan ibadah Madhah. Adaptasi
terhadap perubahan garis waktu dari jam 00:00 maju selama 6
jam ke jam 18:00 bukanlah persoalan yang
gampang. Karena ini bukan lagi bersifat sekedar transformasi
linear pergeseran meridian yang mengubah tatanan dunia
yang telah mapan dan dipakai ratusan tahun. Tetapi lebih bersifat
mengembalikan kepada fitrah
alam dimana pergerakan alamiah adalah dari kanan ke
kiri.
Kanan dikatakan sumbu positip dan kiri sumbu
negatip. Yang oleh ilmu pengetahuan sampai sekarang diakui
sebagai kebenaran haqiqi.
Lihatlah Thawaf berputar dari kanan kekiri, Bumi
berputar dari kanan ke kiri (proyeksi tehadap matahari), Balap
mobil, atletik maupun balap sepeda di velodrome
semuanya berputar dari arah kanan kekiri. Ini semua bukan
hanya kebetulan tetapi telah dipertimbangkan oleh para
akhli (pemikir-pemikir) bahwa menentang fitrah alam
adalah bentuk "pemberontakan" terhadap sesuatu yang Haq
yg menentang energi metafisis.
Penulis buku mengingatkan kita agar kita dapat
segera menyadari bahwa dalam beribadah bukan hanya
sekedar ikut-ikutan atas aturan yang sudah ada, tetapi
lebih menitik beratkan pada kebenaran yang Haq yaitu
tidak mendahului seperti yang telah diriwayatkan oleh
para ahli hadist / sunnah Rasul.
Buku setebal 103 Halaman menerangkan dengan sangat gamblang
*rahasia kalender* dan titik lemah almanak Grogorian terhadap
keabsahan ibadah umat muslim
Wassalam
Bambang Sarkoro