Statistik Pengunjung :

Mungkin Bukan Satu-satunya


Saat mata menatap langit di siang hari, bola mata tak lagi sanggup menampung betapa luas dan lowongnya alam semesta. Lain hal yang terjadi jika mata menatap langit di malam kelam. Sungguh alam semesta ini begitu padat, sempit bertaburan bintang.

Hingga saat ini tidak satupun manusia yang mampu menghitung berapa jumlah bintang dilangit, meski tehnologi yang lahir dari kekuatan pikir sudah demikian tinggi. Demikian halnya Nabi dan Rasul pun tidak tahu berapa jumlah bintang di langit.

Jika dibandingkan antara luas langit dengan Bumi. Jelas sekali tergambar didalam kepala, bahwa Bumi ibarat setitik debu diantara ratusan ribu benda langit. Hati saya resah berfikir apakah Bumi ini adalah satu-satunya tempat hidup manusia. Apakah tidak ada kehidupan“manusia” lain diluar sistim tata surya kita?

Jika kita percaya bahwa ada kehidupan masyarakat beradab selain di dalam sistim tata surya kita. Tentunya kita tidak akan bisa menghitung berapa banyak agama dan berapa banyak Nabi dan Rasul yang tergelar di jagad raya ini. Andai kata satu sistim tata surya (satu bintang) memiliki satu kehidupan beradab, maka akan ada banyak kehidupan selain di bumi kita. Kemudian layaknya suatu kehidupan maka tak dapat disangkal bahwa disana ada agama lain ciptaan Allah yang diturunkan.


Inilah yang menjadi kerisauan yang ada di dalam ini, tentang keyakinan yang saya anut adalah satu-satunya keyakinan yang paling sempurna yang sering digemborkan banyak orang. Sementara kemungkinan adanya kehidupan lain yang mungkin memiliki peradaban yang lebih maju. Bahkan mungkin ada kehidupan beragama di tempat itu.

Masalahnya apakah kita masih patut mengklaim bahwa keyakinan yang kita miliki adalah satu-satunya keyakinan yang di Ridhoi Allah SWT seperti yang tersurat pada Surah Al Maidah Ayat:3. Sementara kita hidup di satu “titik debu” alam semesta yang memiliki ribuan Bintang yang mungkin diantara ribuan bintang terdapat suatu kehidupan “manusia” yang beradab.

Tidaklah terlalu salah kiranya apabila orang-orang tua kita berkata bahwa di bumi dua agama. Yaitu agama langit dan agama bumi. Agama langit diturunkan di Mideterania (Midle East) seperti Agama Yahudi, Kristen maupun Islam, Sedangkan Agama bumi adalah agama-agama terlahir atas kepercayaan pada kekuasaan Allah dan produk pikiran manusia bijak. Catatan sejarah menyatakan bahwa nenek moyang agama langit adalah Yahudi. Keesaan Tuhan dikenalkan oleh banyak Nabi seperti Ibrahim AS, Ismail AS, Musa AS, Sulaiman AS, Daud AS ke-semuanya berdarah Yahudi.

Baik agama langit dan agama bumi membawa suatu misi tunggal adalah Humanisme (al Hanafiyah) untuk kebahagian manusia hidup. Jika kita coba mendalami filsafat humanisme, maka yang ada adalah kesamaan misi semua agama. Logikanya jika semuanya sama, kesemuanya memiliki level kesempurnaan yang sama. Kalau saja kita mau menyadari sisi pandang humanisme, maka diyakini tak akan terjadi pertengkaran. Karena ketidakmampuan mendudukan humanisme sebagai misi tunggal, sehingga terjadi kegagalan penganut agama menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang membahagiakan.

Jika kita membicarakan agama, kita takkan bisa menghindar dari area mistik yang ada di dalam lingkar agama, baik itu agama yang turun dari langit, atau agama yang lahir di bumi. Demikian pula halnya dengan dogma-dogma yang harus ditelan. Manakala dogma lebih berperan maka akan melemahkan kemampuan penganut dalam ber-ijtihad.

Dalam perjalanannya, semakin tua umur bumi, Agama tidak saja berperan dalam mengatur keimanan manusia kepada Allah, tetapi juga sebagai sarana untuk meraih kekuasaan. Padahal dalam catatan sejarah seperti ditulis oleh Michael Amstrong dalam buku the History of God. Tidak pernah ada kesuksesan yang di dapat manakala agama dan simbol agama dipakai untuk menguasai atau digunakan sebagai alat mencapai kekuasaan. Secara harfiah jelas tergambar bahwa misi agama adalah humanisme bukan kekuasaan.

Sudah barang tentu Allah SWT takkan pernah meridhoi atas penyimpangan misi tersebut. Dan bukti itu nyata-nyata ada dihadapan kita. Gaung dogma acap kali membuat orang menjadi militan dan mengesampingkan itjihad, sehingga melupakan humanisme. Dan tanpa pikir panjang manusia saling menghabisi satu sama lain. Dan ini semua menjadikan dunia sangat rentan yang mungkin saja dalam sekejab bisa lumpuh manakala manusia dari “dunia lain” yang berasal dari “atas angin” menyerbu mahluk bumi.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini. Peradaban di bumi ini mungkin bukan satu-satunya peradaban di alam semesta. Demikian halnya keyakinan yang kita yakini paling sempurna dan satu-satunya keyakinan yang mendapat ridho Allah, adalah bukan satu-satunya keyakinan yang ada di alam semesta, mungkin saja terdapat ribuan keyakinan yang diturunkan oleh Allah SWT tersebar di berbagai sistim tata surya alam semesta.

Akan demikian halnya bahwa Allah SWT mungkin memiliki Nabi lebih dari 25. Bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan nabi yang tersebar di galaxy.

Jadi,tidaklah pantas kalau kita menyatakan bahwa keyakinan yang kita anut adalah satu-satunya keyakinan yang paling sempurna, meskipun itu tersurat di dalam kitab suci. Kita perlu mentasfir lebih teliti.

Marilah kita ber ijtihad dengan menatap satu bintang saja di langit, sambil bertanya kepada Allah SWT : ”Apakah Engkau menciptakan peradaban disana, Ada berapa agama yang Engkau turunkan disana?”.


Wassalam

Bambang Sarkoro