Statistik Pengunjung :

Right to Achieve the Prospherity


Menjadi orang kaya atau yang sederajat mungkin adalah impian bayak orang. Terlepas apakah kaya secara materi maupun spiritual. Apalagi kedua-duanya, ia menjadi magnet yang berdaya tarik sangat kuat. Hampir seluruh energi manusia dikuras habis untuk mewujudkannya. Bahkan lebih dari itu ia korbankan seluruh hayat hidupnya untuk menjadi kaya. Tidak satupun manusia waras bercita cita untuk menjadi miskin.

Di tengah kuatnya arus pencarian, dikeheningan kita merenung bertanya pada diri sendiri, “Adakah manusia yang tidak pernah miskin?”. Kalau saja ada orang yang sejak lahir sampai mati tak pernah merasakan kemiskinan maka ia adalah orang yang sangat beruntung. Entah sudah berapa kota yang dikunjungi, entah berapa negeri yang pernah disinggahi, manusia beruntung yang tak pernah merasakan kemiskinan merupakan spieces yang langka.

Pertanyaanya adalah mengapa kemiskinan itu selalu ada? Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi. Namun merasa diri paling miskin di dunia. Sebab selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih tinggi. Ada yang lahir dari keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materi yang serba kekurangan. Ternyata Allah SWT tetap memberikan kesempatan, harapan dan pertunjuk.

Ada suatu kata canda, ”mumpung susah podo seneng-seneng”. Sederhana dan mengena. Dalam kajian analisis transaksional, ini merupakan bahasa komunikasi orang tua (parent transactional analisys). Yang bisa diterjemahkan bahwa manusia yang tidak pernah miskin adalah mereka yang hidup tidak mengkaitkan tingkatan material maupun tingkatan spiritual, melainkan lebih pada kemampuan seberapa baik dan seberapa bisa mensyukuri.

Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat dalam kehidupan seseorang, maka ia masuk kedalam kelompok manusia yang tidak akan pernah miskin.

Kemudian apakah miskin itu ?

Sulit untuk didefinisikan, karena untuk mengukurnya memerlukan tingkatan pembanding. Pada awalnya Syukur memerupakan parameter tercanggih untuk mengukur kemiskinan manakala syukur membandingkan ke tingkatan yang lebih bawah. Orang sehat memerlukan pembanding orang sakit. Nikmat naik sedan memerlukan pembanding orang yang naik sepeda motor atau yang naik angkot. Kita yang bernafas bebas membandingkan dengan mereka yang harus membeli gas asam.

Adalah berbahaya ditingkat serba membandingkan seperti ini, adalah kualitas rasa syukur akan berkurang drastis manakala seseorang telah mencapai tingkatan yang tinggi. Guna mempertahankan kualitas rasa sykur cara yang terbaik adalah menghilangkan pembanding. Hingga syukur adalah syukur tanpa kehadiran pembanding lagi. Saya adalah saya, anda adalah anda tidak ada pembanding lagi.

Tidak mudah tentunya, karena di perlukan kemampuan mengolah diri khususnya panca indera. Oleh karena itu panca indera perlu dididik.

Dalam kesempatan membeli oleh-oleh buah tangan untuk anak-anak tercinta di rumah yang ditinggal cukup lama di beberapa negeri yang berbeda. Ada suatu rasa pelayanan yang berbeda. Di negeri sakura begitu terbungkuk pemilik toko mengucapkan terima kasih sambil mengucap, “arigato gozai mashita”, tanpa perduli berapa besar kita belanja, semua berlaku sama tanpa ada perbandingan besar kecilnya jumlah belanjaan.

Berbeda pula di 9Vland ucapan terima kasih hanya dinyatakan dalam bill yang kita terima yang bertuliskan “Thank You”. Berbeda pula kalau kita belanja di Afganistan. Ucapan terima kasih hanya dinyatakan dalam memberikan bungkus atau kantong kertas sebagai wadah belanjaan, dan kita mengemasnya sendiri.

Kalau boleh berasumsi, bahwa perbedaan-perbedaan itu timbul akibat pemahaman kualitas rasa syukur. Meskipun substansi yang bernama syukur adalah sama. Dan ternyata syukur itu bersemayam di naluri budi pekerti, bukan datang dari langit.


Wassalam

Bambang Sarkoro